Kan senin hari libur!” Boleh juga pikirku. “Ok!” jawabku setuju.
Jumat sore itu, aku dijemput di kantor. Sudah siap dengan semua
barang-barangku.
Kuletakkan badanku dijok mobil porche birunya yang empuk. Sebelum
berangkat, ia sempat mencium bibirku lembut, kemudian menginjak gas, dan
kami berangkat ke puncak. Dalam perjalanan, sebentar-sebentar tangan
kanannya mengusap pahaku, kadang ke dadaku, dan mengusap tetekku yang
berukuran 36B, hingga puting ku mengeras.
Master Agen Terbaik - Ku geser badanku menghadapnya dengan satu kaki menekuk ke arahnya
hingga rokku terbuka dan memperlihatkan celah vaginaku yang hanya
ditutupi celana g-string merah yang dibelikannya minggu lalu. Jarinya
pun menggeser tali g-stringku kesamping, kemudian memainkan jarinya di
vaginaku yang sudah mulai basah. Jarinya mengorek-ngorek ke dalam
vaginaku, seakan berusaha menarik clitorisku keluar. “Ssh.. Aah.. Shh..
Ah..” desahku sambil memuntir muntir putingku sendiri. yang di dapat Cerita 888.
Ditengah jalanan yang macet antara puncak dan jakarta, didalam mobil
porche nya yang berkaca hitam, aku membuka resleting celananya, dan
mulai mengulum penisnya yang sudah mulai mengeras. Batang penis
sepanjang 20 cm itu kukulum masuk ke dalam mulutku. Karena tidak dapat
semuanya masuk, aku memegang sisa batangnya dengan tangan kananku dan
mulai mengocoknya. “Aaakhh.. Say.. Enak.. Pinter banget sih..” sambil
tangannya sebentar sebentar menekan kepalaku.
Kujilati batang penisnya, kuemput buah zakarnya. Kusedot sedot kepala
penisnya, dan kumainkan lidahku berputar putar diatas helemnya saat
penisnya masih dalam mulutku, hingga penisnya yang besar itu seperti
berputar putar di mulutku yang sempit. Tiba tiba ia menekan kepalaku
hingga penisnya terasa penuh dalam mulutku dan ia mengeluarkan pejunya
ke dalam mulutku yang kutelan habis pejunya.
“Ssshh.. Ahh.. Say, makin mahir aja kamu nyedotnya.. Ada yang
ngajarin ya?” ujarnya sambil tersenyum dan melirikku nakal. Aku kembali
ke posisiku bersandar pada sandaran kursi dengan satu kaki naik dan
jariku memainkan vaginaku yang sudah sangat basah.
“Sudah nggak tahan sayang? Ada dildo tuh di dalem dashbord,” ujarnya
sambil menunjuk dashbord mobilnya. Ia memang paling senang membelikan
aku mainan baru berupa dildo atau hanya sebuah vibrator. Sebuah dildo
karet yang cukup kecil sepanjang 10 cm dan berdiameter 2 cm dengan
duri-duri yang agak rebah.
Perlahan dia masukkan dalam vaginaku. “Sshh..” desisku merasakan ada
barang yang masuk dalam vaginaku. Belum sampai mentok ia mendorongnya,
tiba-tiba ia menariknya cepat dan membuat duri-duri yang tadinya tidur,
tiba tiba berdiri dan menggaruk dinding vaginaku! “Aaahh.. Allee’..”
jeritku kaget, aku tidak mengira akan seenak itu.
Dengan pintu sebagai topangan badanku, aku sedikit menggoyang
pinggulku mengikuti irama keluar masuk dildo dalam vaginaku. Karena
sesekali Ale’ harus melepas dildo itu, akhirnya aku mengambilnya dan
mengendalikannya sendiri.
“Aaahh.. Aahh.. Allee..” desahku setiap kali dildo itu kutarik
keluar. Belum aku mencapai klimaks, ternyata mobil telah masuk ke dalam
garasi Villanya. Tiba-tiba Ale’ membuka pintu yang kusandari, hingga aku
hampir terjatuh, tapi ia menahanku dari belakang. Kemudian ia mengambil
alih dildo yang ada dalam vaginaku dan ia mengocoknya cepat.
“Ssshha aahh.. Aaahh.. Aaahh.. Allee’.. Ahh.. Fuck me.. Fuck me..”
Mendengar rintihanku, ia langsung membalik badanku dan mengarahkan
penisnya yang telah berdiri tegak ke lubang vaginaku. Sekalipun sudah
basah, tapi tetap saja, penisnya yang berdiameter 5 cm itu tidak dapat
masuk dengan mudah. Setelah beberapa kali kepala penisnya mengorek
lubang vaginaku, akhirnya dapat juga masuk.
“Sshh aahh..” jeritku ketika ia menusukkan penisnya dalam sekalipun
masih tersisa 4 cm diluar vaginaku. Ia mengikatkan kakiku ke pinggulnya
dan ia menarikku keluar dari mobil, hingga aku digendongnya dengan penis
sudah ada didalam vaginaku. Ia membawaku masuk ke dalam kamarnya di
lantai 1, sekalipun ia harus naik tangga, Ale’ tetap kuat mengangkatku,
dan aku sudah mulai mengejang karena terasa sangat mengganjal dengan 4
cm penisnya yang seperti menusuk-nusuk berusaha mendobrak peranakanku.
Dan kakiku semakin kuat menjepit pinggulnya. Sesampainya di kamar, ia
menidurkanku diatas kasurnya yang empuk, kemudian mengangkat kedua
kakiku ke pundaknya dan merapatkan pahaku.
“Ahh.. Allee.. Ennakk.. ffuucckk.. HH..” Vaginaku terasa sangat
sempit, dan ia mengocok penisnya dan memaksakan penisnya yang tersisa
diluar untuk masuk lebih dalam. Namun tetap tidak bisa. Ia segera
membalikkan badanku, hingga dalam posisi doggy dengan dia berdiri di
pinggir kasur. Badanku sudah mulai bergetar keras karena nikmatnya, Ale’
tetap menusukkan penisnya dengan membabi buta ke dalam
vaginaku,
sementara tangannya memeras-meras tetekku dengan keras hingga
meninggalkan bekas merah.
“Aaahh.. Allee.. SsSSHH.. Alee.. Aku mau keluaarr nihh.. lebbiihh
ceeppaatt ssaayyaangghh..” pintaku dengan nafsu yang sudah hampir tidak
dapat ditahan lagi. “Samaa ssayy.. keeluaariin diimanaa?” tanya alle
dengan semakin cepat ia mengocok penisnya. “Di daleemm ajaa..
diddalleemm.. Aaahh.. Ssshh.. Aaahh..” jawabku karena aku sudah minum
pil KB beberapa bulan ini. “Baarreengngg ssaayy.. Dikkitt llaggii..
Aahh..” Bersamaan dengan keluarnya pejunya dalam vaginaku dan rongga
vaginaku yang berkedut keras. Entah berapa kali Ale’ semprotkan pejunya,
karena cukup banyak, sampai meleleh keluar vaginaku bercampur dengan
cairan cinta dari dalam vaginaku. “Makasih sayang..” ujarnya sambil
mengecup keningku.
“Ale’.. Kamu emang jago!” pujiku padanya. Setelah agak lama aku
berbaring di dadanya. Ia menyuruhku membersihkan diri di kamar mandi,
sementara ia mengambil barang-barang kami di mobilnya. Sementara aku
mandi dengan shower, samar samar aku mendengar ada orang berbincang
bincang di kamar. Tadinya kupikir suara TV yang keras. Ternyata ketika
aku keluar hanya dengan berlilitkan handuk, aku terkejut melihat Micky
dan Barry, dua teman Ale’ yang nggak kalah macho! Ale’ langsung
memelukku dari belakang dan mencium leherku dan membuyarkan terkejutku.
“Mereka kesini mau ikutan main say. Kamukan dulu bilang ingin coba
main dengan cowok lebih dari 1. Dari pada cari yang enggak jelas,
mending cari teman sendiri. Mereka juga suka kok say, dan mereka juga
suka kamu. Nggak papa kan?” ujarnya mesra. “Ale’.. Kamu tahu aja!”
ujarku sambil melingkarkan tanganku ke belakang kepalanya kemudian
menciumnya mesra. Sambil Ale’ menciumku, ia memberi tanda pada kedua
temannya untuk mendekat, ia sedikit mendorongku untuk tiduran di kasur.
Ketika aku sudah terlentang diatas kasur, ia menyodorkan penisnya ke
mulutku. Langsung ku sambut penisnya yang besar itu dan mulai menjilat
jilatnya. Sementara Barry mulai menjilati putingku yang sudah keras.
Micky, memainkan vaginaku dengan lidahnya. Mengorek ngoreknya dengan
lidahnya yang panas.
“Emmpphh..” desahku tertahan penis Ale’ setiap kali Micky mengorek
clitorisku dengan lidahnya. Barry tiba tiba melepas antingnya dan
menjepitkan di putingku. “Barry.. Sakit sayang..” kataku sesaat
melepaskan penis Ale’ dari mulutku. “Tenang sayang.. Enak kok.” ujarnya
kemudian menjilat putingku yang memakai anting itu. Dan memang ternyata
enak.
Kujilat kembali penis Ale’ seperti menjilat batang eskrim yang besar.
Tak lama, Micky melepas mulutnya dari vaginaku dan tiduran di sebelahku
sementara Barry tiduran diatasku. Kulirik Micky yang sedang mengoleskan
penisnya dengan madu. Ale’ mengangkatku hingga hampir duduk diatas
Micky yang terbaring disebelahku. Ia menyandarkan kepalaku ke dadanya
yang bidang, hingga pantatku menghadap Micky. Tiba tiba kurasakan jari
Micky yang telah diolesi madu memasuki anusku. “Ssshh.. Aaahh.. Mic,
sakit.. Ssshh..” jeritku. “Tenang say.. Sakitnya cuma sebentar, tapi
nikmatnya selangit.
Relax aja, dan enjoy biar nggak sakit.” Aku berusaha tenang sambil
bersandar pada dada Ale’. Makin lama makin enak, tak lama kemudian Micky
menusukkan penisnya sepanjang 14 cm dg diameter 4 cm, menerobos dalam
anusku. “Aaahh.. Ssshh..” jeritku sambil mempererat pelukanku pada Ale’.
Setelah penisnya masuk semua ke dalam anusku, Ale’ membuatku terlentang
diatas Micky. Kemudian ia mengikatkan kedua tanganku ke kepala ranjang
yang cukup tinggi dengan menggunakan kain yang cukup halus, hingga aku
dapat berpegangan dan sedikit mengangkat pantatku dengan kaki
mengangkang. Ale’ tidak membuang kesepatan ini untuk mulai mengorek
lubang vaginaku dengan penisnya yang besar.
“Aahh.. Hhh.. Ssshh.. Alee.. Massuukkinn ssayy..” mendengar
permintaanku itu, Ale’ tidak segan segan mulai menusukkan penisnya ke
dalam vaginaku. “Emmpphh.. Penuhh Lee’.. Pelan pelan..” Perlahan namun
pasti, Ale’ menusukkan penisnya yang besar itu ke dalam vaginaku hingga
mentok. Ale’ mulai mencondongkan badannya ke arahku dan memakai satu
kakinya untuk menopang badannya, ia mulai mengayunkan pinggangnya.
Pertama pelan..
Kemudian makin cepat, dan makin cepatt.. “Ssshh aahh.. Alee..” Micky
juga mulai menggoyangkan pinggulnya membuat kedua lubangku dikocok
bergantian. Ketika Ale’ masuk, Micky keluar. Ale’ keluar, Micky masuk,
begitu seterusnya hingga.. “Ahh.. Ssshh.. AAHh.. Ssayy.. Fuckk..!!
Alee.. Bentar lagi dapeett nih.. Aaahh..” jeritku.. “I’m coming..” desah
Micky.. “Ssh.. Iiyaa.. Keeluar bareng ya.. Shh.. Aahh.. Ahh” ujar Ale’.
Tiba tiba kurasakan perasaan nikmat yang tak dapat kutahan, lorong
vaginaku mulai berkedut keras tanda aku mulai orgasme.
“AAH..” jeritku, bersamaan dengan semprotan pejuh di anusku. Disambut
dengan tusukkan yang dalam di vaginaku dan tumpahan pejuh Ale’ dalam
vaginaku serta kedutan yang keras dari penis Micky di anusku dan penis
Ale’ di vaginaku. Lemas badanku dibuatnya, aku masih berada diantara
Micky dan Ale’ seperti sandwich yang basah dengan keringat. Masih dengan
penis yang menancap di anus dan vaginaku. Ale’ menarikku hingga penis
Micky lepas dari anusku.
“Plop” bunyinya nyaring. Penis Ale’ masih setengah berdiri masih
dalam vaginaku, sambil ia menidurkanku di dadanya. Kulirik jam dinding
sudah pukul 3 pagi dan aku langsung tertidur lelah. Paginya, aku
terbangun karena merasakan ada yang menjilat jilat vaginaku dan meremas
remas tetekku. Ternyata Barry yang menjilatku dan Ale’ serta Micky yang
meremas tetekku. “Ssh.. Aaahh.. Enak Barry..” Tak lama Barry duduk
berlutut di depan vaginaku dan mengarahkan penisnya yang agak bengkok ke
atas seperti pisang itu ke celah vaginaku. “Aaahh..” jeritku ketika ia
menusukkan penisnya dengan cepat ke dalam vaginaku. Seakan ada yang
menggaruk bagian atas lorong vaginaku. Kemudian Barry mengangkat kaki
kananku dan meletakkannya di atas kaki kiriku hingga badanku seperti
terpelintir karena kedua tetekku ditahan dalam mulut Ale’ dan Micky.
“Aduuhh.. Enaakkhh..” Penisnya yang bengkok itu menggaruk bagian
dalam vaginaku. Perlahan namun pasti Barry mengocok vaginaku.. “Sshh..
Aahahh.. Barryy.. Mmmhh..” Dengan irama 3 kali tusukan pelan dan 1 kali
tusukan cepat dan dalam, membuatku melayang dibuatnya. Tak lama tusukkan
penisnya semakin tak terkontrol, semakin membabi buta membuatku semakin
melayang! “Ahh.. Ssshh.. Emmpphh..” desahku saat Barry kembali membuka
kakiku hingga vaginaku terbuka lebar dihadapannya. Ale’ menepuk nepuk
dan menekan nekan vaginaku supaya aku semakin terangsang. Ia mengaitkan
jarinya ke bibir vaginaku hingga tertarik.
“Ahh.. Ssshh.. Ahh.. Bbarryy.. Lebihh cceeppaat.. Mauu keluaarr
niihh..” Segera Barry mencabut penisnya. Seketika aku kecewa, ternyata
ia berganti posisi dengan Ale’, Ale’ langsung menusukkan penisnya yang
besar itu dalam vaginaku dan Barry menjepitkan penisnya diantara tetekku
dan mulai mengocoknya hingga ia memuncratkan pejunya ke wajahku.
Sementara Ale’ mengocokkan penisnya yang panjang itu dalam vaginaku.
“Aaahh.. Ssshh,” jeritku terasa semua ototku tegang karena orgasm yang
kurasakan sambil merasakan kedutan penis Ale’ menandakan ia sudah
mengeluarkan pejunya dalam vaginaku. Lemas sekali badanku, harus
melayani mereka. Ale’ tiba tiba mengangkatku dan membawaku ke
kamarmandi. Disana sudah ada Micky yang sedang mengisikan bath tub
dengan air panas dan sabun susu wangi.
Ale’ mencelupkan badanku yang letih ke dalamnya. “Kamu istirahat dulu
deh say.. Nanti kalau sudah selesai, langsung ke ruang makan ya,”
ujarnya sambil mencium keningku. Sekitar setengah jam aku berendam
melepas lelah. Setelah selesai, seperti permintaan Ale’ aku menuju ruang
makan, hanya dibalut mantel mandi. Disana sudah ada dua orang perempuan
yang sedang memasak di dapur. Keduanya tak kalah sexy dariku.
Ternyata mereka adalah Amy (160/54 34C) yang ternyata pacarnya Micky.
Serta Sylvy (158/53 34B) yang adalah pacarnya Barry. Keduanya memakai
celana hotpants yang memperlihatkan paha mereka yang putih dan mulus dan
kaos model kemben yang hanya menutup payudara mereka yang besar. Samar
samar terlihat puting mereka menonjol dibalik kaosnya. “Sini sayang,
kita sarapan dulu,” ujar Ale’ sambil mengeluarkan kursi disebelahnya.
Setelah menunggu aku duduk, ia pun duduk di kursinya. Micky dan Amy
ternyata sudah selesai makan, dan mereka sekarang ada di dapur sambil
berciuman ditonton kami berempat. Celana Amy dibuka dan di lemparkan ke
bawah kemudian melepaskan kembennya, hingga Amy menjadi bugil. Kulihat
penis Ale’ dan Barry yang berada disisiku yang satunya sudah berdiri
tegak. Aku dan Sylvy saling melihat, tak lama Sylvy menghilang dibawah
meja, ternyata sedang meng-oral penisnya Barry.
Ale’ kemudian melihatku seakan memintaku mengoral penisnya. Tapi
karena aku belum selesai makan, aku hanya mengocok penisnya pelan sambil
berkata, “Sabar sayang..” Micky mengangkat kaki kanan Amy kemudian
mulai menusukkan penisnya dalam-dalam. “Aaahh..” desah Amy membuatku
juga semakin terangsang. Ale’ yang telah selesai makan, menyingkapkan
mantel mandiku dan mulai menggigit putingku yang sudah mengeras dan
mengorek vaginaku dengan jarinya.
Sambil aku menekan kepalanya ke dadaku, aku melihat Micky yang sedang
mengocok vagina Amy sambil menciumi teteknya dan Barry yang keenakan
disebelahku karena penisnya dikulum Sylvy. “Aaagghh.. Mic.. I’m
commingg..” jerit Amy. Tak lama kulihat lelehan pejuh di paha kiri Amy
menandakan Micky sudah menembakkan pejunya. “Ssshh.. fuucckk..” desah
Barry disebelahku, kemudian kulihat Sylvy muncul dari bawah meja dengan
bibirnya penuh dengan pejuh. Ale’ melepaskan pagutannya di tetekku.
“Nonton BF yuk,” ajaknya ke ruang TV. Dan kami bermain sepanjang hari.
***** Kami semua menuju ruang TV. Ale duduk di singel sofa empuk
miliknya depan TV. Barry mulai menjalankan VCD Player dengan film BF
yang mereka punya. Aku duduk menyamping diatas pangkuan Ale, pantatku
disela sela pahanya. Ketika film dimainkan, tangan Barry dan Sylvy sudah
mulai saling merangsang, sementara Micky dan Amy sudah berciuman diatas
sofa panjang. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang memperhatikan film
di VCD, karena masing-masing sudah memulai permainannya sendiri sendiri.
Jari-jari Ale sudah mulai membelai celah memekku.
Menarik-narik klirotisku membuatku semakin terangsang. Ia juga
menciumi tetekku menggigit putingku. Tangan kiriku mengocok kontolnya
lembut. Tak lama, kakiku diangkatnya hingga aku duduk berhadapan
dengannya sementara kontolnya terjepit antara perutnya dan memekku dan
kedua kakiku melewati sandaran sofa. Perlahan Ale mengorek-ngorek lubang
memekku dengan kontolnya.
“Ahh..” desahku saat kepala kontolnya mulai menerobos masuk dalam
memekku. Aku menekan pantatku kebawah, hingga kontolnya masuk sampai ke
batangnya, sekalipun rasanya sakit sekali, tapi nikmatnya luar biasa.
Kemudian aku terlentang diatas pangkuannya masih dengan kontol yang
tertancap dalam memekku. Amy dan Sylvy mendekatiku, mereka menjilati
tetekku dan menggigit gigitnya serta meremas remasnya hingga memerah,
sementara Micky dan Barry memasukkan kontol mereka ke dalam vagina kedua
perempuan yang sedang menungging itu, kemudian mengocoknya. Jari-jari
Sylvy dan Amy menggelitik klitorisku, membuatku semakin bergetar. Ale’
memegang pinggangku dan sedikit mengangkatnya, hingga ia bisa
mengocokkan kontolnya dalam memekku. “Ahh.. Ssshh..” desahku keenakan..
Tanganku berpegangan pada sandaran tangan sofa dan mulai mengangkat
pantatku dan memutar mutarnya, hingga kontol Ale yang panjang serasa
mengaduk aduk memekku. Pelan namun pasti, pantat Ale’ pun di goyangkan
mengikuti irama goyangan pantatku.
Makin cepat dan makin tak beraturan.. “Ahh.. Alee..” Ia mengeluarkan
sebuah vibrator kecil, seukuran ibu jari dan memasangnya pada getaran
tertinggi. Kemudian menempelkan pada klitorisku. “Aahh.” Jeritku seakan
tersetrum listrik seluruh tubuhku, bersamaan dengan itu terasa memekku
berkedut sangat kuat dan.
“Aahh.. Alee.” Aku menggoyangkan pantatku
semakin kuat dan badanku bergetar sangat keras dan kurasa dinding
memekku mengejang sangat kuat menjepit kontol Ale yang masih ada
didalam. “Aaahh.. Sayang.. Ohh.. Fffuck!” Desah Ale, bersamaan dengan
mengalirnya pejuhnya dalam memekku. Kedua orang di sebelahku juga mulai
mendesah dan mencengkram erat pegangan sofa. Masih dalam posisi yang
sama, aku menghampiri Amy dan menghisap teteknya, sementara Ale’ mecium
bibir dan memainkan lidahnya dalam mulut Sylvy sambil meremas teteknya.
Tak lama mereka menjerit keras sambil menggoyangkan pantat mereka dan
kemudian menelungkupkan kepalanya di sandaran kursi. Setelah sejenak
kami semua berisitarahat ditempat, kami semua bangkit dari tempat duduk
kami. ‘Plop’ suara dari kontolnya Ale yang tadi tertanam dalam memekku
ketika terlepas.
Ale mengangkatku ke kamar mandi dan meletakkanku dalam bathtub
kemudian mengisinya dengan air hangat. Dengan tubuh yang sangat letih,
aku tertidur dalam bathtub yang hangat. Ketika aku terbangun, air sudah
meluber keluar dari bathtub. Kemudian aku mandi dan membersihkan memekku
dengan sabun.
Terasa sangat perih karena sudah beberapa kali dimasukkan
kontolnya Ale yang sangat besar itu. Kemudian aku keluar dengan baju
mandi yang masih ada di kamar mandi. Ternyata Barry, Micky, Amy dan
Sylvy terlelap diatas sofa panjang depan TV, sementara kulihat Ale yang
masih telanjang berdiri di dapur sedang membuat secangkir kopi. “Sudah
mandinya? Seger?” “He.. eh..” Jawabku sambil menganggukkan kepala. “Ini
kopimu” Katanya sambil menyerahkan kopi susu kesukaan ku. “Ke kolam
yuk.. Pemandangannya bagus!” Ajaknya sambil melilitkan handuk di
pinggangnya. Aku mengikutinya kolam indoor dengan kaca di sekelilingnya.
Pemandangan senja yang indah terlihat dibalik kaca. Matahari yang
sudah memerah membuat suasana menjadi sangat romantis. Tapi aku
menggigil karena penghangat ruangan baru saja dinyalakan. Tiba-tiba, Ale
melepaskan handuknya dan masuk ke dalam kolam kecil itu. “Ayo masuk!”
ajaknya. Pertama aku takut, karena dingin sekali udaranya, tapi kemudian
ketika aku memasukkan jari kakiku ke dalamnya, ternyata hangat!
Ternyata kolam itu bisa berfungsi menjadi kolam air panas. Maka aku
memberanikan masuk ke dalamnya. Didalam kolam terdapat tangga kecil
hingga kami bisa duduk sambil berendam hingga leher. Ale duduk di salah
satu pojok kemudian ia menarikku dan meletakkan kepalaku di pundaknya.
Ia mengangkat daguku dan mengecup bibirku mesra. Aku membalikkan
badanku dan memeluknya dari depan kemudian mencium bibirnya. Lidahnya
mulai menari dalam mulutku. Tangannya memijat-mijat tetekku dan menarik
narik putingnya. Tangan kananku mulai mengelus-elus kontolnya yang sudah
setengah berdiri. Tak lama jarinya mengorek-ngorek memekku. “Shh.. Ah..
Aduh.. Sakit say.. Perih!” Ujarku langsung melepaskan ciumanku. Terasa
sangat perih di daerah klitorisku. “Iya.. Pelan pelan deh.. Masukkin aja
ya say biar nggak terasa perihnya. Biar terasa enaknya” Terdiam ku
sesaat, sambil merasakan jarinya yang sudah mulai dimasukkan satu
persatu dalam memekku.
“Iya deh.. Tapi pelan pelan ya.. Ujungnya sakit nih!” Kataku sambil
membimbing jarinya ke klitorisku yang terasa agak perih, berusaha
menunjukan daerah yang sakit. “Ya sudah.. Dari belakang aja.. Kamu
munggungin aku” Ujarnya sambil membimbing pantatku naik ke pahanya
hingga aku duduk membelakangi Ale. Perlahan ia membimbing kontolnya
masuk ke dalam memekku. “Sshh.. Aaahh..” desahku ketika kurasakan
kontolnya yang panjang 20 cm dan tebal 5 cm itu menyeruak masuk dalam
memekku yang masih sedikit perih. “Tahan sayang..” sambil mendorong
pantatku hingga kontolnya masuk sepenuhnya ke dalam memekku. Terasa
sedikit perih. Aku bertahan pada pinggir kolam, kemudian mulai
menaikturunkan pantatku. Setiap aku menurunkan pantatku, terasa Ale’
mengangkat pantatnya, hingga kontolnya masuk lebih dalam dari yang
kuperkirakan. “Sshh.. Ahh.. Enak sayang..” Ujarku setiap ia menusukkan
kontolnya. Makin lama, makin cepat dengan sentakan sentakan yang
mengejutkan, membuatku semakin melayang.
“Aaahh.. Ahh.. Ssshh.. Mau keluar saayy..” Tanganku makin mencengkram
kuat pinggiran kolam, merapatkan pahaku supaya dapat lebih menggigit
kontolnya. Tiba tiba, Ale mendorongku sedikit, hingga aku berdiri agak
bungkuk menghadap pinggiran kolam. Sementara ia menempelkan dadanya,
erat di punggungku sambil meremas remas tetekku dan menusukkan kontolnya
bertubi tubi dalam memekku. “Aaahh.. Ssshh.. Allee..” Jeritku tak
tahan. “Tahan say.. Dikit laggii.. Aaarrgghh..!!” Jeritnya bersamaan
dengan keluarnya pejuhnya dalam memekku bercampur cairan cintaku yang
juga keluar saat itu. Lemas rasanya lututku hingga aku berlutut dan
bertopang pada pinggir kolam. “Aduh.. Enak ya..” Tiba tiba ada suara
yang mengejutkan kami berdua. Ternyata keempat teman Ale yang muncul di
belakang kami. Barry kemudian duduk di depanku mengarahkan kontolnya ke
mulutku. “Kata Ale’ isapan mu maut! Isap punya aku ya! Aku ingin
ngerasain permainan lidah mu” Sebentar aku melihat ke Ale seakan meminta
konfirmasinya.
“Maaf sayang, habisnya kamu jago banget sih kalau ngisep!” dengan
senyumnya yang manis, ia mencium punggungku. Ketika aku mulai memasukkan
kontolnya ke dalam mulutku, tiba-tiba Ale menarik kontolnya dari dalam
memekku. Sempat kulirik ke belakang, ternyata ia ditarik oleh Amy dan
Sylvy ke bungalow di pinggir kolam. Kumainkan lidahku di kepala kontol
milik Barry yang ternyata memiliki ketebalan yang sama dengan Ale, 5 cm
tapi masih lebih panjang milik Ale. Kuhisap bijinya dan menjilat
batangnya, seperti menjilat es krim. Aku masukkan kontol sepanjang 14 cm
itu ke dalam mulutku sambil kukocok. Micky memelukku dari belakang,
menciumi punggungku dan memainkan jarinya di putingku dan memekku.
“Aaahh.. Allee..” Jerit Amy membuatku harus meliriknya. Di bungalow
yang tak jauh dari tempat kami, kulihat Amy menunggingkan pantatnya,
sementara Ale sedang memasukkan kontolnya ke dalam vagina Amy. Dan Sylvy
menjilati vagina Amy dari bawah sambil meraba-raba memekknya sendiri.
Tanpa sadar aku lebih cepat mengocok kontolnya Barry dan lebih cepat
memutar mutar lidahku di kepala kontolnya. “Ssshh.. Aaahh.. Lidah lo
enak banget Le’ Aku mau keluar say.. Telen ya..” Ujar Barry ke Ale dan
aku sambil menekan kepalaku hingga gelagapan. Hingga aku hampir tak
dapat bernafas menerima pejuhnya dalam mulutku. Aku terus menghisapnya
hingga kontolnya menciut.
Tapi tetap aku tak melepaskannya hingga kontolnya kembali berdiri
tegak. Barry turun dan masuk ke dalam kolam, bertukar tempat dengan
Micky yang tadi dibelakangku menjadi berhadapan denganku. Aku
dipangkunya dan Micky duduk di tangga. Perlahan ia memasukkan kontolnya
ke dalam memekku. “Aahh.. Mick..” Desahku ketika semua batangnya masuk
ke dalam memekku. Serasa penuh, sekalipun memekku baru saja dimasukkan
oleh kontol Ale yang besar, tapi tetap saja rasanya penuh. Sebentar
kulirik bungalow tempat Ale dan dua perempuan lainnya. Kulihat Amy dan
Sylvy terlentang hampir bertindihan, sambil membuka liang memeknya.
Sementara Ale memasukkan kontolnya bergantian dari vagina Amy ke Sylvy.
Kemudian Amy lagi dan Sylvy lagi, Kedua perempuan itu berteriak
setiap kali Ale menghujamkan kontolnya ke vagina mereka. “Sshh.. Ahh..”
Aku terkejut ketika Micky mulai mengocok memekku. Ia mencium dan melumat
bibirku mesra. Sementara Barry dibelakangku mulai mengelus elus
tetekku. Tak berapa lama, Barry mulai mengorek lubang pantatku dengan
kontolnya. “Ahh.. Barry..” Desahku ketika kontolnya masuk ke dalam
memekku. “Ssshh.. Aaahh.. Lleebiihh cceeppaat Mick.. Akku mmau
kkeluuaarr..” Desahku keenakan. “Barengg saayyaangngg.. Aaahh..
Ttahhnn.. Bbenntaar llaggii.. Ssshh.. Aaahh aahh” Jerit Micky bersamaan
dengan mengalirnya pejuhnya ke dalam memekku bercampur dengan cairan
cinta di dalamnya. Juga kontol di pantatku yang juga menembakkan
pejuhnya. Kakiku mengikat pinggang Micky dengan erat, menahan kenikmatan
yang tiada tara. Sekalipun dalam kelelahan, aku masih menginginkan
kontol Ale yang besar itu bersarang dalam memekku.
Hingga dengan sedikit tertatih, aku melepaskan pelukan dari Micky dan
Barry, dan membersihkan memekku dalam kolam itu dengan
mengusap-usapnya, dan menghampiri Ale dan kedua perempuan yang masih
bergelut. Ale terlentang diatas kursi panjang dengan Amy dan Sylvy
menjilati kontol Ale yang panjang itu. Kuarahkan memekku ke mulut Ale.
“Ssshh.. Hhhaa.. Allee.. Enaakk Sayyangg..” Desahku ketika ia mulai
menjalari memekku dengan lidahnya yang hangat. Tiba tiba, ia mengorek
liang memekku dengan lidahnya membuat aku semakin menggelinjang.
“Ahh.. Alee.. Enak..” Desahku sambil mengacak acak rambutnya dan
menekan kepalanya ke terbenam dalam selangkanganku. Tak lama, terasa
liang memekku mulai berkontraksi. Pangkal pahaku mulai bergetar
keenakan. Tiba tiba Ale’ mengangkat pantatku dan membawaku ke arah
kontolnya dan memasukkan kontolnya dalam memekku.
“Ssshh.. Aaahh.. Aaacchkk.. Allee.. Aaa..” Jeritku saat kontolnya
menyeruak masuk, bersamaan dengan bergetarnya liang memekku menandakan
aku telah orgasme dan akupun terkulai lemas di dadanya yang bidang,
dengan kontol yang masih berdiri tegak dalam memekku. Dengan sisa-sisa
tenagaku, aku kembali menggoyangkan pantatku, hingga Ale dapat
mengeluarkan pejuhnya. “Shh.. Sayyaanngg.. Eennakk.. Ooohh..” Ale
melenguh panjang, ketika ia mengeluarkan pejuhnya dalam memekku. Kami
semua tertidur di pinggir kolam, hingga pagi Inilah cerita saya judi Online.
Salam Admin www.sevelpoker.com

0 comments:
Post a Comment